TARAKAN CITY

Selasa, Maret 30, 2010

STADIUN DATU ADIL

Senin, Oktober 26, 2009

Senin, Juni 01, 2009

Hutan Mangrove dan Bekantan







HUTAN MANGROVE TARAKAN,, ini lah salah satu WISATA andalan TARAKAN. MANGROVE ini terletak di daerah dekat RAMAYANA di daerah TARAKAN dan dekat dengan PULAU SADAU lhooo. Di dalam hutan ini juaga ada beberapa bekantan. HUTAN MANGROVE ini sangat ramai dikunjungi oleh para warga TARAKAN maupun dari luar daerah. Apalagi kalau hari libur WISATA ini sangat ramau juga lhoo. Ayo ke sini (mangrove) kira-kira harga tiketnya sekitar 3ribu rupiah aja. Sangat murah untuk sebuah WISATA TARAKAN yang indah dan elok untuk dipandang.

SMP Negeri 1 Tarakan



Universitas Borneo Tarakan




Universitas Borneo Tarakan adalah sebuah perguruan tinggi yang berkedudukan di Kota Tarakan Kalimatan Timur. Universitas Borneo didirikan oleh Yayasan Pinekindi pada tanggal 09 Oktober 1999 dan ditetapkan pada tanggal 30 Maret 2000 berdasarkan Surat Keputusan Yayasan Pinekindi Nomor: 011/YP/TRK/III/2000.

Universitas Borneo secara resmi mulai menyelenggarakan proses pendidikan pada tanggal 06 Juni 2001, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 37/D/O/2001. Saat ini Universitas Borneo menyelenggarakan Pendidikan Strata 1 (S-1) yang dilakukan oleh 6 (enam) Fakultas dengan 14 program studi.

Tarakan Pearl Harbor Indonesia 1942-1945









Tarakan Pearl Harbor Indonesia 1942-1945

sumber :
http://www.indomedia.com/bpost/052005/15/ragam/ragam1.htm

Judul: Tarakan "Pearl Harbor" Indonesia (1942-1945)Penerbit: PT Primamedia PustakaPenulis: Iwan SantosoCetakan I: Maret 2005Halaman: 190 halaman
Keadaan industri minyak Tarakan adalah salah satu pemicu Perang Pasifik yang terabaikan. Fakta sejarah ini terkubur oleh sudut pandang sejarah Perang Dunia II dari sisi Amerika.


PULAU Tarakan di Kalimatan Timur bisa disebut sebagai "Pearl Harbour"-nya Indonesia. Drama pertempuran berdarah yang terjadi di pulau kecil ini adalah bagian penting sejarah Indonesia. Tetapi, sejarah itu terlupakan begitu saja.
Buku ini menceritakan situasi Tarakan antara tahun 1942 hingga 1945, ketika pasukan Jepang berhasil merebut pulau ini dari tangan kolonialis Belanda.
Tarakan pun kembali berdarah-darah dan bagaikan neraka, ketika pasukan sekutu merebut kembali pulau ini yang baru saja dikuasai Jepang selama beberapa tahun.
Penulis menceritakan kisah pertempuran antara kedua pasukan secara detil. Seakan ia hadir di tengah-tengah medan laga, sehingga dapat melaporkan secara gamblang pertempuran demi pertempuran. Berikut pula kisah-kisah keseharian serdadu yang turut bertempur di pulau ini.
Pembahasan Perang Pasifik selama ini hanya seputar Pearl Harbor, perebutan Iwo Jima, kembalinya MacArthur ke Philipina, hingga bom atom Hirosima dan Nagasaki. Sejarah ala Paman Sam ini menggambarkan Amerika bangkit dari korban kekejaman agresor menjadi pahlawan perang.
Buku ini bisa menjadi pelengkap buku-buku pelajaran sejarah yang telah ada, sekaligus mempertautkan kembali rangkaian sejarah Nusantara yang terlupakan.
Tarakan adalah daratan pertama Nusantara yang diserbu bala tentara Jepang pada dini hari, 11 Januari 1942. Diawali dengan serangan udara pesawat Jepang terhadap posisi pertahanan pasukan Belanda yang lebih dahulu menguasai di sana.
Sekitar 20 ribu serdadu Kekaisaran yang dimotori Pasukan Kure, pasukan elit angkatan laut Jepang, mendarat di pantai timur Tarakan dalam dua kelompok.
Pihak Belanda berusaha bertahan, meski tanpa harapan untuk bisa mengusir tentara Nipon. Bermodalkan 1.300 serdadu Batalion VII KNIL, segelintir kapal perang ringan, pesawat tempur dan bomber.
Tak ketinggalan, para pegawai perusahaan minyak BPM (Bataafsche Maatschapij) juga dilibatkan sebagai milisi untuk membantu tentara Belanda.
Pulau kecil yang kaya minyak itu pun akhirnya bagaikan neraka. Sebelum pasukan Jepang mendarat, terlebih dahulu tentara Belanda membakar ladang-ladang minyak di Tarakan agar lawannya tidak mendapatkan pasokan bahan bakar.
Dalam pertempuran tak seimbang itu, Belanda akhirnya kalah telak. Sebagian tentaranya tewas terbubuh, dibunuh dan lainnya menjadi tawanan. Tak sedikit pula korban di pihak sipil.
Pada gilirannya terjadilah balas dendam terhadap Jepang. Lagi- lagi Tarakan menjadi neraka. Pasukan sekutu yang berintikan tentara Australia dengan bantuan Amerika Serikat (AS) mulai menggempur posisi Jepang di Tarakan.
Demikianlah perang Tarakan seolah terlupakan. Menjelang Perang Pasifik berakhir, tepat 1 Mei 1945, Tarakan digempur oleh 20 ribu serdadu Australia melawan 2.000 angkatan laut Jepang. Drama kemanusiaan babak kedua terjadi di sana.
Gempuran pasukan sekutu terhadap pasukan Jepang, secara simultan juga dilakukan di wilayah-wilayah yang dikuasi, mulai dari Malaya, Pattani, Philipina, Hongkong sampai wilayah Jepang sendiri. Hal ini menyebabkan bantuan dari negara induknya semakin sulit. Pasukan Jepang di Tarakan pun harus berjuang sendiri di tengah gempuran pasukan Australia yang telah lama menyimpan dendam kesumat. Pasukan sekutu yang sebelumnya berhasil diusir Jepang dari berbagai wilayah pendudukan di Asia, kembali bangkit.
Di Tarakan, pasukan Jepang tidak hanya kalah jumlah, tetapi teknologi persenjataan juga sudah ketinggalam dari yang dimiliki pasukan sekutu. Tetapi, jiwa patriotisme tentara Jepang yang pantang menyerah terhadap lawan, menjadikan di pihak tentara Australia banyak jatuh korban.
Sampai berakhirnya perang di Tarakan, lebih dari 2.000 tentara dari berbagai kebangsaan, tewas di sana. Dari pihak Australia, sekitar 230 tentaranya tewas dan dimakamkan di Tarakan. Ini merupakan sebuah tragedi bagi negeri Kangguru itu.
Kabar memilukan bagi rakyat Australia terjadi ketika Letnan Thomas Derrick tewas di tangan penembak gelap tentara Jepang yang bersembunyi di hutan belantara Tarakan.
Derrick dikenal sebagai sosok pemberani, pernah bertempur di Afrika, Papua, dan akhirnya gugur di Tarakan menjelang perang dunia kedua berakhir.
Korban dari pihak Jepang sendiri juga cukup besar. Tercatat lebih dari 1.500 prajurit Jepang tewas saat merebut Tarakan dari tangan Belanda hingga pertempuran terakhir dengan pasukan Australia. Tarakan, sebuah pulau kecil yang kaya minyak. Tarakan pernah menjadi �surga� bagi kolonialis Belanda. Dari perut bumi Tarakan, selama bertahun-tahun Belanda mengisap kekayaan alam yang melimpah di sana. Begitu juga Jepang tatkala berhasil merebut pulau itu.
Namun, Tarakan juga pernah menjadi �neraka� bagi mereka tatkala mempertahankan pulau ini. Tarakan pernah menjadi ladang pembantaian bagi kedua pasukan. Lantas akankah kawasan perairan timur Kalimantan di sekitar perairan Tarakan akan kembali membara. Kawasan ini tiba-tiba kembali memanas menyusul sengketa di perairan Blok Ambalat yang kaya minyak, antara Indonesia dan Malaysia.
Perairan timur Kalimantan, termasuk Tarakan, memang telah lama diketahui sebagai sumber minyak bumi yang menggiurkan siapa saja.
Keadaan industri minyak Tarakan adalah salah satu pemicu Perang Pasifik yang terabaikan. Fakta sejarah ini terkubur oleh sudut pandang sejarah Perang Dunia II dari sisi Amerika.
Kepulauan Nusantara, termasuk Asia Tenggara, pada dekade 1930- 1940 merupakan sumber utama bahan mentah bagi negara industri kapitalis Barat maupun Jepang. Bahan mentah, terutama pasokan bahan bakar minyak sangat vital bagi industri dan mesin perang mereka di Asia-Pasifik.
Tak pelak lagi, konfrontasi berujung pada perang terbuka di Pasifik memang ditujukan untuk menguasai sumber daya alam, terutama minyak. Sasaran utama tersebut meliputi ladang-ladang minyak di Kalimantan Timur, Palembang di Sumatera dan Cepu di Jawa Tengah.
Akankah kawasan perairan timur Kalimantan akan menjadi medan �pertempuran� kembali oleh kaum industri-kapitalis untuk mendapatkan pasokan minyak dari wilayah ini.
Akankah pula kawasan ini menjadi �neraka� kembali ketika sengketa Blok Ambalat harus diselesaikan dengan cara-cara konfrontasi. palopo abdurahman

Senin, Mei 25, 2009

Bahasa - bahasa unik Tarakan

From (Facebook - Tarakan bahh)oleh M.Nour Tarakan

Bahasa yang berkembang secara lokal adalah ciri khas bagi suatu Kota. Di Tarakan, banyak kita temukan bahasa atau kata-kata yang ditemukan dan dikorelasikan sendiri maknanya oleh masyarakat kemudian berkembang dan terus digunakan hingga saat ini.

Lihatlah misalnya istilah yang biasa digunakan untuk menyebut Tentara : Kombet. Sebutan itu sebenarnya berasal dari film Perang Dunia II yang sangat terkenal dan begitu menghibur warga Tarakan pada era 70-80-an yang dibintangi oleh Vic Morrow dan Rick Jackson. Judul Film itu adalah COMBAT yang artinya pertempuran. Jadi sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya artinya dengan TENTARA. Tapi begitulah jadinya. Istilah Kombet sudah terlanjur menjadi bahasa lokal yang diserap dari film COMBAT

Contoh lain lagi adalah kata Friday. Sebenarnya kata ini berasal dari film Friday the 13th.Film horor supranatural yang populer pada tahun 1990-an. Meski arti kata Friday adalah Jum'at, ia sudah terlanjur dijadikan oleh masyarakat Tarakan untuk merujuk pada sesuatu yang berbau kuno atau ketinggalan jaman. Padahal tidak ada hubungan 'kuno' dengan 'Jum'at' tapi begitu lah adanya sampai saat ini.

Tentu, sebagai orang Tarakan, jika kita menggunakan dua kata ini di luar Tarakan, orang tidak akan paham maksudnya. So, dua kata ini atau kata2 lainnya yang merupakan hasil kreasi warga Tarakan, hanya akan dimengerti oleh kita sesama warga Tarakan tercinta ini.